Hukum Menggambar dalam Islam: Konteks, Sikap dan Tantangan

Muslimah_Sketch_by_ridjam

Postingan ini saya buat dikarenakan banyak teman yang menegur saya tentang aktifitas desain menggambar yang saya lakukan, sudah lebih dari tiga teman sesama muslim yang mengingatkan saya tentang hal ini termasuk teman yang didalam maupun yang diluar negeri (melalui private message), sehingga mudah-mudahan dengan ditulisnya postingan ini saya tidak harus lagi menjelaskan panjang lebar mengapa saya masih menggambar sampai saat ini, cukup kasih postingan ini saja.

Sudah lama sejak saya baca artikel tentang “Hukum Menggambar dalam Islam” di sebuah situs internet pada saat itu saya berhenti TOTAL menggambar, kira-kira pertengahan tahun 2011 waktu itu masih zaman kuliah hingga pada akhirnya saya kembali lagi menggambar setelah mempelajari hukum dan pendapat para ulama, mendengarkan tausiyah, juga mengikuti kajian termasuk bertanya secara langsung pada ulama dan ustad tentang hal ini.

Postingan ini tidak dibuat panjang lebar, saya bukan seorang yang ahli membahas hadis, bukan ustad apalagi ulama, saya hanya ingin berbagi tentang pengalaman pribadi sebagai seorang muslim yang mencari jawaban tentang bagaimana “Hukum Menggambar dalam Islam”, postingan ini bukan sebagai “pembenaran” terhadap berbagai postingan yang lebih banyak meng”haram”kan tentang hukum menggambar khususnya menggambar makhluk hidup, tetapi postingan ini adalah hasil dari “mencari” jawaban terhadap pertanyaan yang selama ini selalu bergejolak dalam hati, alias sebuah jawaban ketika saya ditanya tentang hal ini. 😀

Postingan ini lebih cocok dijadikan sebagai jalan dan pengantar untuk kita agar bisa lebih luas dalam berfikir juga dalam mempelajari hadis secara Tekstual maupun Kontekstual. Juga postingan ini jangan dijadikan sebagai rujukan utama terhadap jawaban “Hukum Menggambar dalam Islam”, silahkan cari jawaban sendiri supaya hati lebih tenang, termasuk tanya kepada guru ngaji masing-masing. Salah Satu guru ngaji saya pun beliau adalah ahli hadis juga seorang doktor dalam ilmu agama dan sangat bijak memberikan jawaban kepada saya, tidak secara strict mengharamkan.

Beberapa hadis yang populer bahwa Rasulullah tidak suka pada gambar adalah sebagai berikut:

  • Diriwayatkan dari Jabir r.a. beliau berkata:Rasulullah Saw. melarang adanya gambar didalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar”. (HR. At-Tirmizi No. 1671)
  • Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
    Jangan kamu biarkan ada gambar kecuali kamu hapus dan tidak pula kubur yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya”. (HR. Muslim No. 969)
  • Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. beliau berkata:
    “Bahwa tatkala Nabi melihat gambar di (dinding) Ka’bah, beliau tidak masuk ke dalamnya dan beliau memerintahkan agar semua gambar itu dihapus. Beliau melihat gambar Nabi Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. tengah memegang anak panah (untuk mengundi nasib), maka beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka, demi Allah keduanya tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah sekalipun“. (HR. Ahmad No. 3276)

Saya tidak mencantumkan semua, banyak sekali hadis yang membahas tentang “Hukum Menggambar dalam Islam” jika teman-teman search, bahkan secara spesifik ada yang membahas tentang “Hukum Menggambar Makhluk Hidup”, entah itu menggambar seutuhnya maupun sebagian tubuh, ada yang cari “aman” hanya menggambar benda mati seperti batu dan tumbuhan, terlepas dari itu semua menurut hemat saya tumbuhan juga adalah “makhluk” Allah yang tumbuh dan berkembang, bahkan saya pernah berfikir untuk hanya menggambar ROBOT saja karena memang bukan makhluk hidup.

Dan dibawah ini merupakan hadis-hadis sebagai akibat dari para penggambar yang menggambar sesuatu yang dikultuskan (disembah) pada zaman itu:

  • Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., beliau berkata: Sungguh Rasulullah Saw. bersabda: “Manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru Allah dalam hal mencipta”. (Muttafaqun alaih, Al-Bukhari No. 5498, Muslim, No. 3937)
  • Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a., beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Semua penggambar akan berada di neraka. Setiap bentuk yang mereka gambar akan diberikan ruh, dan dengan gambar-gambar itulah mereka disiksa di Jahannam”. (HR. Muslim No. 3945)
  • Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a., dari Rasulullah Saw., beliau bersabda: Barangsiapa menggambar satu gambar di dunia, niscaya akan dibebankan kepadanya untuk meniupkan ruh ke gambar tersebut pada hari kiamat, dan dia tidak akan mampu meniupkannya”. (Muttafaqun alaih, Al-Bukhari No. 5506, Muslim No. 3945)

Dalam hal ini saya termasuk yang memahami semua hadis-hadis diatas secara kontekstual, silahkan baca atau search sendiri tentang metode memahami hadis baik itu secara Kontekstual maupun Tekstual. Bahkan ketika zaman jahiliyah orang-orang menggunakan “Gambar Orang Sholeh” yang mereka yakini akan mengantarkan do’anya kepada tuhan jika melalui gambar tersebut, sehingga turunlah keterangan tentang gambar dan patung.

Pemahaman hadis dengan menggunakan pendekatan kontekstual (asbab wurud al-hadis) adalah memahami hadis-hadis Rasulullah dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi munculnya hadis-hadis tersebut atau memperhatikan dan mengkaji konteksnya. Dengan memahami hadis Rasulullah secara kontekstual maka kita akan mendapatkan pemahaman secara representatif karena memang tidak cukup apabila hanya dengan memahami teks atau redaksi hadis dari sudut gramatika bahasa saja.

Rasulullah melarang dan tidak suka kepada orang yang suka menggambar karena konteks-nya pada zaman itu “gambar” adalah suatu objek yang dituhankan atau dikultuskan (disembah) oleh orang-orang sehingga Rasulullah melarang dan tidak suka. Jadi gambar “Apa” dulu yang akan mendapat Akibat dari hadis-hadis diatas? Jawabannya sudah jelas jika saya memahaminya secara kontekstual pada zaman itu adalah para penggambar yang menggambar makhluk yang dituhankan, dikultuskan alias disembah.

Ketika memahami hadis ini secara kontekstual, tidak serta-merta saya dapat menggambar sekehendak hati, tidak langsung menganut paham seni “Bebas Berekspresi”, ada sikap dan batasan-batasan “Apa saja” yang bisa saya gambar. Setelah mempelajarinya saya menyimpulkan bahwa menggambar itu boleh selama tidak mengandung unsur “maksiat” dan “mudharat” termasuk gambar yang dikultuskan (diibadahi) atau mengandung kemusyrikkan yang memang sudah jelas HARAM, sebagai seorang muslim yang menggemari bidang desain grafis saya membatasi kedua hal tersebut dalam berkarya.

Saya beri contoh salah satu yang mengandung unsur “maksiat” dan “mudharat”, adalah termasuk yang dapat membuat pikiran berorientasi negatif sehingga berakibat pada rangsangan seksual. Pastinya saya tidak menggambar konten berbau pornografi (dewasa) yang dimana saya yakini mengandung kedua unsur tersebut, selain itu saya juga percaya bahwa konten pornografi dapat merusak psikologi seseorang terutama anak-anak.

Saya juga berkeyakinan apabila menggambar hal berbau dewasa, vulgar, erotis atau sedikitnya ada unsur Ecchi atau mengandung fan service jika dalam film animasi jepang, maka akan berakibat pada Culture turunannya. Contoh paling populer saat ini tentang “Jejepangan” siapa yang tidak tau “Anime”?, yups jika para Creator Anime membuat karakter “Seksi” bahkan cenderung “Kelewat Seksi” maka akan berakibat pada Culture turunannya,“Cosplay” misalnya? Para Cosplayer berpenampilan seperti “percis” dengan peran yang terdapat dalam Anime, hal ini yang saya maksud mengandung kedua unsur tersebut, bukan hal yang tidak mungkin coba bayangkan jika para Creator Anime (yang biasanya diadaptasi dari Manga) membuat karakter yang berpakaian “sopan” tentu Culture turunannya-pun akan mengikuti.

Disini saya selalu berteriak dalam hati, pada kemana para Creator Muslim??? pada kemana woy??? ayo bikin Anime, siapa lagi kalo bukan kita to Against mereka coba. Mereka dapat membuat Anime yang bisa diserap dan berpengaruh sangat BESAR terhadap budaya. Bayangkan jika kita bisa buat Anime, kita bisa masukkan unsur-unsur keIslaman, kita sisipi keteladanan Rasulullah dalam Anime, siapa lagi coba kalo bukan kita (Creator). Ketika rekan-rekan yang lain menggunakan media komik dalam menyampaikan pesan-pesan keIslaman, kita masih sibuk mengkritisi bahwa menggambar itu HARAM, padahal “Apa” dulu yang digambar? ini adalah tantangan, dan menurut hemat saya disinilah para Creator muslim harus ambil bagian dari sekarang!!!.

Bisa dibayangkan didalam ilmu kedokteran gambar itu merupakan hal yang sangat penting dan sangat membantu untuk visualisasi objek termasuk infographic dll. Begitu juga anak-anak di pedesaan yang bisa jadi lebih mengerti jika diberikan gambar-gambar tentang jenis-jenis hewan darat, laut, udara dll. dibandingkan hanya dengan metode ceramah. Sebuah gambar bisa jadi lebih bermanfaat dan mudah dipahami dalam proses belajar dibandingkan hanya dengan bercerita tentang ciri-ciri (walaupun spesifik) yang sulit dibayangkan.

Mungkin Anda tidak sependapat dengan hasil mendapatkan jawaban yang saya posting ini, bahkan teman saya pun ada yang masih kekeuh, ngotot, strict bahwa menggambar itu HARAM, bahkan lebih dari itu ada teman saya yang mengharamkan video, termasuk kegiatan merekam dan mengambil gambar, tapi saya heran mereka masih menggunakan KTP yang pasti ada fotonya dong,… 😀 menurut saya kegiatan fotografi maupun videografi itu boleh dalam Islam, tetapi akan menjadi HARAM hukumnya jika objek yang kita foto atau rekam mengandung unsur “maksiat” dan “mudharat”.

Senang rasanya masih ada Teman yang mau menegur dan mengingatkan tentang hal ini, ini berarti masih ada kepedulian terhadap sesama Muslim, apalagi berhubungan dengan akhirat itu tentu merupakan kewajiban seorang Muslim. Alhamdulillah dalam hal ini “hukum menggambar” saya sudah mendapat jawaban sendiri, mudah-mudahan Allah memberi credit poin atas usaha “mencari” yang saya lakukan, terlepas dari berapa kadar kebenarannya. Saya juga berharap dalam kasus lain kita masih saling mengingatkan agar teman yang lainnya mendapatkan jalan agar tidak “terjerumus” dalam kesesatan. Saya juga menulis kasus kontemporer lainnya, baca artikel saya tentang “membajak software<-wajib dibaca 😀 .

Contoh lain selain Gambar, ada juga beberapa keterangan yang saya pahami secara kontekstual, seperti masalah “Jenggot” saja sampai dibahas panjang lebar dong, padahal jika dilihat konteksnya pada zaman itu “Jenggot” disarankan oleh Nabi untuk dipelihara adalah sebagai ciri khas agar sesama Muslim dapat saling mengenal dan bertegur sapa, sedangkan sekarang konteks zaman berbeda malahan orang non muslim banyak yang ber”jenggot”, lebih parah lagi teman saya ada yang tidak mau mendengarkan “Ustad/Penceramah/Ulama” yang tidak berjenggot dengan alasan tidak “Nyunnah” karena berkeyakinan berjenggot itu wajib dan Sunnah. Saya selalu menghela nafas lebih dalam jika masih ada orang yang membahas masalah “jenggot”, padahal Rasulullah diutus dibumi ini bukan untuk ngurusin jenggot!!!, kasihan teman-teman saya yang cuma tumbuh jenggot satu atau dua lembar saja, apakah ini berarti mereka tidak “Nyunnah”? Memang tidak ada yang salah apabila berjenggot, tapi jangan dijadikan sebagai acuan apalagi menilai kesholehan seseorang hanya dari “jenggot”.

Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk oleh Allah dalam segala hal,… 😀

Tentu saja postingan ini tanpa mengurangi rasa hormat saya bagi teman-teman yang berkeyakinan bahwa gambar itu HARAM, khususnya gambar makhluk hidup. Proses belajar seseorang dalam “mencari” memang berbeda-beda, beda pemahaman karena beda guru adalah sesuatu yang lumrah. Yuk kita makin banyak ngaji, jangan cuma dari satu ulama atau satu majelis, ngaji dibanyak ulama dibanyak tempat supaya kita punya banyak perspektif. Ngaji jangan cuma dari Kiyai Google, tapi ngaji mengunjungi majelis sesungguhnya di dunia nyata.

Tapi saya juga heran sih jika Anda berkeyakinan bahwa gambar itu Haram tetapi Anda masih menggunakan Gambar dalam kehidupan sehari-hari, jadinya terkesan tidak konsisten. Menurut hemat saya jika Anda memang benar-benar menganut bahwa Gambar itu Haram, secara totalitas Anda tinggalkan semua Gambar, termasuk Uang Rupiah yang didalamnya terdapat “Gambar Realis” pahlawan Indonesia, saya tidak yakin kalo Anda masih pake alasan “Kedaruratan”,… karena yang namanya “darurat” itu sementara,… paragraf terakhir ini cuma intermezzo aja,… ^_^

Wallahu A’lam Bishawab.

ridjam signature

 

 

 

===========================================================================

ridjam_illustrations_invitation

Advertisements
About

http://about.me/ridjam

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Posted in Kajian Islam, Mindset
16 comments on “Hukum Menggambar dalam Islam: Konteks, Sikap dan Tantangan
  1. hiragatakunaichi says:

    maaf saya ubek2 inet, cuma belum dapat tutorial buat masukin ayat Al Qur’an ke inkscape. antum tau caranya?

    saya pake “Al Quran in MS Word” lalu copas ke inkscape, tetap gak bisa. inkscapenya langsung terminate….

    Like

  2. dee485 says:

    Bismillah…

    salut akhi tulisannya bagus2 dan menginspirasi, terutama artikel yang berkaitan dengan desain grafis..

    namun ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan dari artikel diatas :
    1. ijtihad itu apa bisa dilakukan oleh semua orang? adakah kriteria mujtahid?
    karena penasaran ana mencari penjelasan dan berikut jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin tentang Hukum Ijtihad dalam Islam dan Syarat-syarat Mujtahid :

    Pertanyaan
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum ijtihad dalam Islam? Dan apa syarat-syarat mujtahid (orang yang berijtihad)?

    Jawaban
    Ijtihad dalam Islam adalah mengerahkan kemampuan untuk mengetahui hukum syar’i dari dalil-dalil syari’atnya. Hukumnya wajib atas setiap orang yang mampu melakukannya karena Allah telah berfirman,

    “Artinya : Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [An-Nahl : 43, Al-Anbiya’ : 7]
    .
    Orang yang mampu berijtihad memungkinkannya untuk mengetahui yang haq dengan sendirinya, namun demikian ia harus memiliki ilmu yang luas dan mengkaji nash-nash syari’at, dasar-dasar syari’at dan pendapat-pendapat para ahlul ilmi agar tidak menyelisihi itu semua. Di antara manusia, ada golongan para penuntut ilmu (thalib ‘ilm) yang hanya mengetahui sedikit ilmu tapi telah menganggap dirinya mujtahid (mampu berijtihad), akibatnya ia menggunakan hadits-hadits umum yang sebenarnya ada hadits-hadits lain yang mengkhususkannya, atau menggunakan hadits-hadits yang mansukh (dihapus) karena tidak mengetahui hadits-hadits nasikhnya (yang menghapusnya), atau menggunakan hadits-hadits yang telah disepakati ulama bahwa hadits-hadits tersebut bertolak belakang dengan zhahirnya, atau tidak mengetahui kesepakatan para ulama. Fenomena semacam ini tentu sangat berbahaya, maka seorang mujtahid harus memiliki pengetahuan tentang dalil-dalil syari’at dan dasar-dasarnya. Jika ia mengetahuinya, tentu bisa menyimpulkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya. Di samping itu, ia pun harus mengetahui ijma’ para ulama sehingga tidak menyelelisihi ijma’ tanpa disadarinya. Jika syarat-syarat ini telah terpatri dalam dirinya, maka ia bisa berijtihad. Ijtihad bisa juga dilakukan seseorang dalam suatu masalah saja, yang mana ia mengkaji dan menganalisa sehingga menjadi seorang mujtahid dalam masalah tersebut, atau dalam suatu bab ilmu, misalnya bab thaharah saja, ia mengkaji dan menganalisanya sehingga menjadi seorang mujtahid dalam masalah tersebut.

    [Fatwa Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani]

    http://almanhaj.or.id/content/1084/slash/0/hukum-ijtihad-dalam-islam-dan-syarat-syarat-mujtahid-hukum-memberi-fatwa-dan-syarat-mufti/

    2. mengenai “Istafti Qolbak” “Tanya Hatimu”, jika yang dimaksud berkaitan dengan hadits ‘arbain ke -27, apakah setiap orang bisa meminta fatwa kepada hatinya masing2? jika secara nash (dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah) dinyatakan sebagai perbuatan dosa, apakah ketetapan seperti ini masih perlu melihat perasaan jiwa dan suara hati?

    Wallahu ‘alam bish-showab..

    Like

    • ridjam says:

      Terimakasih mas atas tanggapannya, kebetulan kemarin saya juga ditegur oleh teman katanya jangan pake kata “Ijtihad” karena memang tidak sembarang orang dapat ber-Ijtihad, dan ketika saya baca pun demikian.

      Terimakasih mas, Jazakumullah secepatnya saya akan edit/ganti. 😀

      Like

  3. Anov Siradj says:

    on point, barusan jalan2 di inkscape, liat gambar hijab.., langsung stalking fb, eh…, banyak yg jadi **kiya’** , akhirnya sampai laman sini.., tenang rasanya :v

    Like

  4. Azhar says:

    hmm.. setahu ana, kalau masalah keilmuan dan untuk anak2 mah ga masalah mas.. misal kedokteran, biologi, dan untuk edukasi anak2.. itu jelas sekali tidak masalah.. ana bukan orang yang tau agama banget, cuma ana tidak setuju dengan pernyataan mas yang mengatakan anime utk dakwah.. termasuk game JIKA terdapat unsur berikut : 1. Musik, 2. Unsur liberal dalam cerita/tokoh, 3. Menghabiskan waktu, 4. Cinta karakter fiktif, dan menghanyutkan, + masalah FanArt,

    Alasan saya sebagai berikut:
    1. Musik jelas mengganggu konsentrasi, fokus, mood, perasaan, emosional seseorang, bahkan seorang ulama pernah berkata kalau tidak salah “musik itu menggantikan Al-Qur’an”, yang intinya sih jika kita sudah cinta pada musik, sulit utk berubah/hijrah, atau yang paling jelas sih sulit utk mengingat Al-Qur’an.. ana sendiri memang udh bertahun2 suka anime, dan alhamdulillah sekarang sudah mulai mau berhijrah dan meninggalkan musik, terutama anime itu hampir tidak mungkin tidak menggunakan musik dikarenakan tujuan awalnya memang hiburan.. kalau animasi utk pendidikan anak ana rasa tidak masalah karena terkontrol.. tapi kalau animE yang dimaksud jejepangan ana kira baiknya kita tinggalkan, terlalu banyak mudharat,
    2. Unsur liberal dalam cerita/tokoh, kebanyakan anime memang dibuat oleh orang yang percaya ada banyak tuhan, multi theist sebagaimana kebudayaan jepang yang menganggap tuhan bisa berupa energi, air, pohon, batu, etc, atau bahkan mulai marak tokoh anime yang atheist, ini yang jadi masalah.. dan kemungkinannnya kontennya materialistik, duniawi, dan memang tidak islami, manusia itu bergerak, mengambil tindakan berdasarkan referensi, kalau BELUM ada dasar agama yang kuat, sangat sulit untuk dia berhijrah nantinya, atau justru menjadi pembela liberal itu sendiri, poin ini saya sudah saksikan pada beberapa orang yang saya kenal,
    3. Melalaikan, selain bikin lupa shalat dan keutamaan ibadah, kita justru jadi memiliki bad habit yang mennjauhkan muslim dari pribadi muslim dan konsep tauhid sebenarnya, yan gini jelas lah ya,
    4. Cinta karakter fiktif, posesif, merasa memiliki, dlsb, kalo otaku ngerti lah ya hehe.. terus maslaah Fan Art.. sudah jadi pengetahuan umum otaku, ada banyak doujin atau fan art yang tidak senonoh seperti yang disebutkan, dan memang itu tidak baik, tapi sudut pandang yang ana mau bilang itu adalah, hal ini bisa saja berlaku pada karakter anime muslim (misalnya benar dibuat), dan itu berbahaya..

    Overall, yang paling ana tidak setuju itu ya kalaupun kontennya islami, masalah musik, dan melalaikan itu yang jadi perhatian ana.. musik bisa membuat kita “lupa atau melupakan” secara tidak sadar terhadap al-qur’an dan seringkali membuat kita galau..
    Sementara melalaikan ibadah dan belajar itu yang jadi masalah.. Karakter pribadi muslim yang baik itu yang suka belajar dan mengajarkan kebaikan Islam ke sesama muslim dan non muslim kan? salah satu karakter itu biasanya suka tilawah, mengkaji al-qur’an, membaca buku2 islami, dlsb.. Jika, dakwah di dalam anime benar ada, saya kira karakter muslim yang suka membaca dan mengkaji al-qur’an bukan kah menjadi surut dan orang hanya suka “sisi hiburan” dari anime nya saja / membentuk habit, hobby, yang tidak seperti deskripsi yang saya sebutkan… Wallahua’lam bissawab.. 🙂 mohon maaf kalau ada salah kata..

    Like

    • ridjam says:

      Terima kasih Mas Azhar atas tanggapannya, dari semua poin yang Mas Azhar tulis sangat tidak asing bagi saya terutama masalah Musik, dan gak asing juga poster yg bertebaran di media sosial tentang Musik itu Haram, saya termasuk yg memandang Musik itu “boleh” tergantung dari konten atau isinya, jadi musik apa dulu? sama seperti hukum gambar, jadi gambar apa dulu yg tidak boleh?

      Karena teman2 saya juga ada yg mengharamkan Musik tapi dia masih pake Ringtone di Smartphonenya, berpendapat haram tapi tidak konsisten mengamalkan. Tapi saya sangat menghormati teman2 yg memutuskan hanya pake “tanda getar” saja di hapenya tanpa ringtone, karena memang cara memahami hadis yg berbeda.

      Sementara poin-poin lainnya masalah “melalaikan ibadah” itu lebih ke masalah personal, semua yang ada di dunia ini dapat melalaikan ibadah dan kita sendiri yang dapat mengotrolnya. Unsur liberal, Menghabiskan waktu dan Cinta karakter masih dapat kita kontrol, untuk itu sampai saat ini masih sedikit orang yg peduli masalah ini padahal pengaruhnya besar.

      Untuk itu kita harus punya otorisasi, punya kekuasaan, punya studio animasi sendiri, punya film sendiri… supaya semua isi atau konten didalamnya dapat kita isi sesuai prinsip-prinsip dan nilai-nilai keIslaman yang kita anut.

      Wallahu a’lam bishawab.

      Like

      • Azhar says:

        Terima kasih atas balasannya, 🙂

        1. Ana kira mas Ridjam salah lihat masalah musik yang saya maksud, Musik yang saya maksud itu adalah musik dengan lirik yang menghanyutkan, ringtone misal pada HP tidak masuk kategori ini, karena tidak ada lirik sama sekali, dan terutamanya nada tersebut dibuat utk memberikan notifikasi, bukan utk dinikmati, sama aja kea suara sirine ambulan yang memang utk suatu kebutuhan, bukan keinginan,

        hal ini juga ana liat di artikel yang mas ridjam bilang masalah gambar dalam uang rupiah, saya tidak melihatnya dari segi darurat, saya melihat dari segi “Dipaksakan” kita sebagai rakyat tidak memiliki wewenang atau kendali atas gambar yang ada di mata uang rupiah kita, tapi kita butuh dan terpaksa menggunakan currency tersebut, saya kira mas ridjam jika sudah sering ke pengajian akan dibahas biasanya masalah takdir, dan hal yang dapat kita ubah dan tidak dapat kita ubah, kalau kita tidak bisa menggantikan uang rupiah yg ada gambar tersebut, hal itu jelas tidak akan dipertanyakan di akhirat, pada dasarnya kita hidup utk akhirat kan? utk apa kita istilahnya cari masalah di akhirat? argumen mas ridjam soal tidak konsisten terhadap gambar dan musik sejatinya tidak valid, mohon maaf,

        2. Kalau mas ridjam bilang kita membuat anime yang sesuai prinsip Islami, ana kira sejatinya prinsip Islami adalah pribadi yang disibukkan dengan membaca dan mengkaji al-qur’an, bukan hiburan duniawi, maka yang perlu dilakukan adalah amar maruf nahi munkar agar kita selalu dekat pada-Nya, bukan dunia kan..

        Nah, sekarang memang masalah dakwah (amar maruf nahi munkar), memang saya setuju kalau ada dakwah yang bisa memanfaatkan media, dalam hal ini salah satunya (bukan anime sih), kalau mas Ridjam lihat ke Yufid TV, di youtube itu, mereka membuat banyak sekali video2 dakwah yang signat, padat, bermakna, hingga kajian Islam yang mendalam, tanpa musik, tanpa gambar2 yang tidak diperlukan, dakwah seperti ini ana kira sangat baik.

        Sementara kalau untuk Anime, ana kira terlalu berlebihan, lebih mungkin banyak hiburan ketimbang ilmu Islam itu sendiri, kecuali utk edukasi anak2, yang dalam hal ini saya tidak bermasalah karena hal ini utk pendidikan anak2, sementara remaja dan dewasa sejatinya sudah harus mulai menapaki jalan realistis melihat agama harusnya lebih nyata belajar langsung dari sumber (kitab hadis misalnya, bukan sekedar googling) dan mengaplikasikan ilmu nya sambil terus fokus menambah ibadah, tidak tertaut pada hiburannya.

        Kesimpulan :::::
        1. Musik dan Gambar masih bisa dihindari, sesuatu yang tidak bisa diubah oleh tangan kita sendiri jelas tidak akan dipertanyakan di akhirat, tapi sudah jelas bahwa kita BERUSAHA utk menghindarinya,
        2. Prinsip Islami ana kira disibukkan dalam ibadah bukan dakwah, dakwah penting, tapi kalau sampai fokus pada mubah ketimbang wajib dan sunnah, ana kira ini bukan karakteristik pribadi muslim yang taat,
        3. Media kartun, gambar, dan musik (utk musik ana kira sebaiknya dihindari agar anak2 lebih suka mendengar alquran daripada menyanyi apalagi menari..) untuk anak2, mayoritas ulama setau ana berpendapat boleh.

        ::: ergo: kalau pun mau buat, pilihannya hanya 1, untuk anak-anak.

        tambahan, maaf panjang banget hehe.. lebih bagus lagi kalau mas ridjam liat karya mas Handri Satria Handjaya Alfatihsatria, beliau yg bikin komik mengenai sejarah “Pahlawan” Muslim yang nyata, riil, yang ditujukan untuk anak-anak, meskipun begitu, memang orang dewasa tidak masalah membacanya, dan ana merasa jika tujuannya utk berdakwah mengenai sejarah seperti ini bagus ditanamkan ke anak-anak..

        Kalau yang ini pendapat saya pribadi, masalah agama dan hukum Islam / Syariatnya, sebaiknya jangan dijadikan hiburan, karena ini masalah taat pada-Nya.
        Sementara kalau sejarah utk memotivasi umat muslim, dan utamanya karena komik seperti yang beliau buat ini utk anak-anak agar melek sejarah, ana rasa ini ide bagus, karena mereka bukan belajar agama di komik, tapi ditanamkan cinta tokoh karakter muslim yang benar2 nyata (tidak seperti super hero amerika yang fiktif dan tidak mengajarkan taat), dan taat sehingga mereka mau, suka, cinta, dan mengikuti tokoh riil nyata tersebut agar taat pada-Nya..

        Jadi, belajar agama sebaiknya jangan lewat hiburan, tapi lewat kitab dan guru yang benar. Wallahua’lam bissawab, sekali lagi mohon maaf kalau ada salah kata.. Jazakallah khair..

        Like

      • ridjam says:

        Dengan demikian Mas Azhar punya definisi sendiri masalah musik, karena setau saya banyak sekali musik tanpa lirik yang sangat populer dan lagi-lagi masalah menghanyutkan atau tidak, itu adalah masalah personal.

        Secara definitif Ringtone adalah termasuk musik, hal ini yang sulit sekali dicerna oleh sebagian temen-temen yang lebih memilih memahami hadis secara “tekstual” termasuk masalah gambar. Tidak masalah jika pemahaman Mas Azhar seperti itu saya sangat menghargai, sama halnya ketika Mas Azhar menJudge saya karena tidak sepakat “Tidak Valid” masalah Uang Rupiah, tidak berbeda dengan tidak menyetujui foto-foto pahlawan Indonesia di ruangan kelas anak sekolahan yg padahal tujuannya berbeda.

        Jika menurut Mas Azhar yang dimaksud prinsip Islami adalah pribadi yang disibukkan dengan membaca dan mengkaji al-qur’an alias bukan “hiburan duniawi”, tidak masalah kita beda pendapat lagi. Manusia secara fitrah menyukai hiburan, tidak sedikit studio kreatif yang memanfaatkan hiburan sebagai “media” dakwah.

        Jangan sampai di Indonesia ini kita:
        “Sibuk mengkritik orang Islam daripada mengajak orang lain masuk Islam.” saya pernah tinggal di daerah mayoritas non-Muslim, disaat orang lain berdakwah memanfaatkan media Gambar dan Musik kita malah sibuk mengkritik, masih masuk kategori Khilafiyah dan berpeda pendapat, kami manfaatkan celah itu. Mas Azhar bersikap hati-hati atau Wara? silahkan saja, tidak masalah.

        Mas Azhar punya skill apa?… silahkan manfaatkan di bidangnya Mas Azhar. Semua profesi bisa jadi ladang dakwah asal masih dalam koridor syariah.

        Masalah akhirat adalah hak prerogatif Allah, teman-teman yg berdakwah dengan gambar atau dengan musik biar Allah yang memberi kredit poin, Stop menJudge kesholehan seseorang hanya dari jenggot, celana cingkrang, gamis, sorban… yg bukan prinsipil. Sulit memberikan pengertian karena beda guru, beda majelis, ada ustad yg berdakwah secara “Strict” ada juga yg lebih “Moderat”, jangan hanya belajar di Yufid dan Rodja, belajar dari guru, majelis dan channel lain supaya kita mempunyai khasanah pemikiran.

        Jika menurut Mas Azhar “Prinsip Islami itu disibukkan dalam ibadah bukan dakwah” beda paham lagi gak masalah, karena menurut pemahaman saya ibadah itu bersifat personal, sedangkan dakwah adalah hubungan sesama. Yang saya pahami adalah “Puncak kesholehan Vertikal kepada Allah adalah kesholehan Sosial”, karena sebaik-baik manusia adalah yg bermanfaat bagi sesama.

        Wallahu a’lam bissawab.

        Like

      • Masya Allah Tabarakallah akhi.. jazakallah khair sarannya..

        Ana memng masih Belajar akhi, dapat Saran sangat ana sukai ..
        Kalau dalam pendapat ana, ketimbang dikatakan memahami hadis secara tekstual, ana memilih guru yg memang Belajar langsung dari Saudi akh, soalny di sana itu setau ana kurikulumnya mengajarkan fiqih dr berbagai mazhab, sehingga dlm opini ana lulusan sana seperti ustad firanda dkk yg ada di yufid lebih kredibel karena banyak sekali guruny serta Belajar berbagai pandang fiqih tidak hanya syafii (mayoritas di Indonesia).. afwan, mungkin ana kira sedikit merasa berbahaya menggunakan kata “memahami hadis secara kontekstual” kesanny agak liberal, ana lebih suka sami’na waatho’na..
        Jadi ini dasar ana akhi, dalam pengambilan pendapat, Bisa jadi guru kita berbeda Dan yg ana lakukan hanya mengingatkan akhi..
        Mohon maaf kalau dirasa menjudge, ana hnya menyampikn ap yg ana tau Dan yakini.. amar maruf nahi munkar akhi.. hehe..

        Foto pahlawan sih ana tdk setuju, sekalipun kalau dri sudut pandang ana di saudi kerajaannya memajang foto, ana tdk setuju.. itu sih pendapat ana..

        jazakallah khair sdh mau mendengar pendapat ana akhi.. thx jg Saranny akh 😀

        Like

      • ridjam says:

        Ya saya sangat menghargai pendapat seseorang, yang selalu penting untuk disikapi adalah pendapat orang lain tidak harus sama dengan pendapat kita, hadis kita sama, agama kita sama, hanya metoda dan cara memahami hadis yg berbeda, cara memahami hadis ada yg harus secara tekstual dan ada yg secara kontekstual, bukan berarti memahami hadis secara konteks itu “Liberal”, Islam itu dpt dianut di semua zaman sampai kiamat. Seperti masalah tata cara sholat tentu harus tekstual sesuai yg dicontohkan Rasulullah.

        Secara tekstual pun ada perbedaan, misal masalah isyarat dalam tahiyat ada yg telunjuknya digerakkan-gerakkan ada juga yang tidak. Kita jangan menJudge orang yg digerak-gerakkan Salah, atau menJudge orang yg tidak digerak-gerakkan Salah. Saat ini memang virus gampang mengkafirkan orang lain harus dihindari, ketika tidak sependapat dengan kita, jangan menJudge itu Salah!, Neraka! Padahal secara tekstual keduanya memang ada keterangannya.

        Masalah foto saja Mas Azhar tidak setuju kepada negara yang notabene fasih berbahasa Arab dan sy yakin mereka lebih faham hadis dibanding kita, ini contoh tentang pendapat. Tidak semua lulusan timur tengah itu kredibel, dan jangan dikira channel lain selain Yufid tidak ada lulusan timur tengahnya. Selama nara sumbernya merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah boleh kita ikuti dan kita amalkan, bukan dilihat dari titel lulusan Arab.

        Amin, Jazakallah Khair juga, sukses selalu buat Mas Azhar.

        Like

  5. haekal says:

    mantapppp mas bermanfaat…doain ya saya mau kuliah dkv, semoga diridhoi Allah dan tetap pada jalan-Nya yang lurus

    Like

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Rizky Djati Munggaran

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow Blog Rizky Djati Munggaran on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,814 other followers

%d bloggers like this: